Presiden Prabowo Subianto mengklaim bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia menunjukkan statistik yang lebih baik dibandingkan program serupa di Jepang dan negara-negara Eropa. Pernyataan ini disampaikan Prabowo saat meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan gudang ketahanan pangan Polri di Palmerah, Jakarta Barat, pada Jumat, 13 Februari 2026.
Menurut Prabowo, laporan yang diterimanya dua hari sebelumnya, atau sekitar 11 Februari 2026, menunjukkan bahwa dari total 4,5 miliar porsi makanan yang telah didistribusikan melalui program MBG, hanya sekitar 28.000 penerima manfaat yang mengalami gangguan kesehatan seperti sakit perut atau dugaan keracunan. Angka ini, kata Prabowo, merepresentasikan persentase insiden yang sangat kecil, yakni sekitar 0,0006% atau 0,0007%, yang berarti tingkat keberhasilan program mencapai 99,9994%.
Meskipun demikian, Prabowo menekankan pentingnya verifikasi terhadap laporan tersebut. Ia juga mengingatkan seluruh jajarannya untuk tidak bersikap sombong atas capaian ini. “Jangan kita sombong, jangan kita petantang-petenteng. Kesombongan adalah awal dari kehancuran. Ingat itu. Semakin berisi, semakin menunduk. Itu adalah ilmu padi nenek moyang kita,” ujar Prabowo.
Mengenal Program Makan Bergizi Gratis (MBG)
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan inisiatif unggulan pemerintahan Prabowo Subianto yang mulai berjalan secara bertahap sejak 6 Januari 2025. Program ini menargetkan siswa-siswi dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK, serta ibu hamil dan menyusui. Tujuan utamanya adalah meningkatkan gizi masyarakat, menekan angka stunting, memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Program MBG dirancang untuk memenuhi sepertiga kebutuhan kalori harian penerima manfaat melalui pemberian makanan bergizi satu kali sehari. Hingga pertengahan Oktober 2025, pemerintah telah membangun 11.900 dapur MBG yang melayani sekitar 35,4 juta anak dan ibu hamil, atau sekitar 35 persen dari target nasional. Secara keseluruhan, program ini menargetkan 82,9 juta penerima manfaat dengan alokasi anggaran sebesar Rp171 triliun.
Tantangan dan Respons Terhadap MBG
Dalam perjalanannya, program MBG tidak luput dari kritik dan tantangan, termasuk laporan kasus keracunan massal di berbagai daerah. Bahkan, ratusan ekonom sempat mendesak agar program ini ditunda. Namun, Prabowo menegaskan bahwa insiden keracunan yang terjadi sangat minim dibandingkan total porsi yang didistribusikan, dan mengklaim bahwa hampir tidak ada program buatan manusia yang mampu mencapai tingkat keberhasilan 100 persen.
Presiden juga mengungkapkan bahwa gagasan MBG sempat diejek dan dituduh macam-macam oleh sejumlah pihak, termasuk “orang-orang terdidik” dan “profesor terkenal”. Meski demikian, Prabowo meyakini bahwa MBG adalah program yang benar dan sangat diperlukan oleh mayoritas rakyat, meskipun mungkin tidak penting bagi masyarakat kelas atas. Ia juga membandingkan program ini dengan sistem makan sekolah di Jepang yang dikenal ketat, serta program serupa yang telah diterapkan di berbagai negara maju seperti India dan Brasil.
Komitmen untuk terus meningkatkan kualitas dan keamanan pangan MBG tetap menjadi prioritas. Teknologi keamanan pangan lokal, termasuk perangkat uji produksi dalam negeri, turut disoroti sebagai salah satu faktor pendukung kualitas program yang mampu bersaing dengan standar global.





